Permainan tradisional merupakan bagian penting dari kebudayaan suatu bangsa. Di Indonesia, warisan permainan tradisional sangat beragam, mulai dari yang menggunakan alat sederhana hingga yang hanya mengandalkan kemampuan berpikir dan strategi. Salah satu permainan yang masih dikenal hingga kini adalah dam-daman. Permainan ini bukan hanya menyenangkan, tetapi juga sarat makna, melatih logika, kerja sama, dan kesabaran.
Dam-daman dikenal di berbagai daerah di Indonesia dengan nama yang berbeda-beda. Di beberapa tempat disebut “dakon dam”, “catur rakyat”, atau “main dam”. Meskipun bentuk dan aturannya bisa sedikit bervariasi, inti dari permainan ini tetap sama: adu strategi untuk “memakan” atau mengalahkan bidak lawan di atas papan permainan.
Filosofi permainan ini mengajarkan pentingnya berpikir matang sebelum bertindak. Setiap langkah menentukan langkah berikutnya, dan kesabaran menjadi kunci untuk mencapai kemenangan. Dalam konteks kehidupan, nilai-nilai ini selaras dengan prinsip kebijaksanaan dan perencanaan yang baik sebelum mengambil keputusan besar.
Garis-garis kecil di bidang permainan ini jadi tempat pemain dam-daman maju, menyamping, dan ‘makan’ bidak lawannya. Yang pasti, bidaknya nggak boleh mundur. Cara ‘memakannya’ adalah dengan melompati bidak lawan tersebut. Siapa yang bidaknya habis duluan, dia yang dianggap kalah..
A. Permainan Dam-Daman
Permainan dam-daman merupakan permainan yang hanya dapat dimainkan oleh dua orang. Permainan ini memiliki kemiripan dengan permainan catur. Bedanya permainan dam-daman dapat menggunakan batu kerikil sebagai pengganti bidak.
Bidak sama dengan pion pada permainan catur. Bidak merupakan alat sederhana yang digunakan untuk permainan dam-daman. Bidak antar pemain tidak boleh sama agar mudah dibedakan. Bidak setiap pemain berjumlah enam belas buah.
Selain bidak permainan ini juga membutuhkan alat lain, yaitu arena. Arena permainan dam-daman dapat dibuat di atas tanah, lantai, papan kayu atau kertas. Arena dapat digambar menggunakan kapur tulis, arang, atau spidol. Arena permainan dam-daman berukuran sekitar 20 x 30 cm.
Setelah membaca teks jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini!
1. Apa permainan yang dimainkan paman Sapto dan anak-anak?
Permainan dam-daman
2. Apa saja yang dibutuhkan untuk permainan dam-daman?
Arena permainan dan bidak berjumlah 32 buah dengan warna yang berbeda.
3. Mengapa bidak permainan sebaiknya berbeda?
Agar mudah membedakan bidak masingmasing pemain
B. Cara Bermain Dam-daman
Berikut aturan permainan dam-daman yang menggunakan 16 batu kerikil.
- Bidak diletakkan sesuai dengan titik yang telah ditentukan. Kedua pemain melakukan suten untuk menentukan pemain yang bermain terlebih dahulu.
- Pemain pertama melangkahkan satu bidak ke garis depan atau ke arah lain. Pemain kedua melakukan hal yang sama.
- Pemain dapat saling mengalahkan dengan cara melompati bidak lawan. Bidak yang dilompati harus dikeluarkan dari arena permainan.
- Pemain juga dapat membuat strategi kemenangan misalnya pemain A sengaja melangkahkan bidaknya agar dikalahkan oleh pemain B. Jika pemain B tidak mau atau lupa memakan bidak pemain A artinya pemain B terkena perangkap. Peristiwa ini disebut Dam (dam ora mangan). Pemain B akan mendapatkan hukuman yaitu dikeluarkannya tiga bidak dari arena secara cuma-cuma. Peristiwa ini menguntungkan pemain A karena dapat mengambil bidak lawan secara sembarang. Pemain A juga dapat melangkahkan bidaknya yang lain.
- Setiap pemain berusaha saling memakan bidak lawan hingga bidak lawan habis. Bidak yang dapat mencapai puncak dinyatakan sebagai raja. Bidak ini memiliki keistimewaan karena dapat melangkah hingga beberapa langkah asalkan ganjil jumlahnya.
- Pemain dinyatakan menang jika berhasil menghabiskan bidak lawan. Pemain dinyatakan kalah jika tidak memiliki bidak untuk dijalankan lagi.
C. Nilai Luhur Permainan Dam-Daman
- Nilai Kesabaran. Seorang pemian harus sabar saat menunggu lawan. Sambil menunggu dengan kesabaran, pemain dapat memainkan strategi dalam mengalahkan lawan tersebut.
- Nilai Kecermatan. Setiap pemain harus cermat mengambil peluang untuk mengalahkan lawan. Saat lawan terkena dam, pemain harus cermat memperhitungkan bidak yang akan diambil.
- Nilai Kecerdasan. Pemain harus cerdas menentukan langkah yang tepat dan efektif untuk mengalahkan lawan. Pemain yang cerdas akan rela mematikan satu bidaknya demi mendapatkan bidak lawan yang lebih banyak.
- Nilai Sosial. Permainan dam-daman dimainkan bersama-sama. Pemain yang kalah harus berlapang dada.
Sayangnya, permainan tradisional seperti dam-daman kini mulai jarang dimainkan karena anak-anak lebih tertarik pada permainan digital dan gadget. Padahal, permainan tradisional tidak hanya memberikan hiburan, tetapi juga mempererat hubungan sosial antar pemain.
Untuk melestarikan warisan budaya ini, perlu ada upaya dari berbagai pihak. Sekolah dapat memperkenalkan permainan dam-daman dalam kegiatan ekstrakurikuler atau pelajaran seni budaya. Komunitas masyarakat juga bisa mengadakan lomba permainan tradisional saat perayaan hari besar nasional atau acara daerah. Selain itu, membuat versi digital dam-daman tanpa mengubah nilai tradisionalnya juga bisa menarik minat generasi muda.
Permainan dam-daman bukan sekadar permainan papan biasa. Ia adalah warisan budaya bangsa yang mengandung nilai-nilai luhur, seperti kebijaksanaan, kesabaran, dan strategi hidup. Dengan melestarikan dam-daman, berarti kita turut menjaga identitas budaya serta mengenalkan nilai-nilai positif kepada generasi penerus bangsa.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar