Pembelajaran Mendalam merupakan pendekatan yang memuliakan dengan menekankan pada penciptaan suasana belajar dan proses pembelajaran berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan melalui olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga secara holistik dan terpadu.
Pembelajaran mendalam (deep learning) akan mulai diterapkan di seluruh jenjang pendidikan dasar dan menengah pada tahun ajaran 2025/2026. Penerapan ini didorong oleh regulasi baru yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk meningkatkan literasi siswa, meskipun implementasinya akan dilakukan secara bertahap.
Prinsip Pembelajaran Mendalam
Kesadaran bermakna dan menggembirakan adalah tiga prinsip inti dari pembelajaran mendalam (deep learning) yang berfokus pada pengalaman belajar yang holistik.
- Berkesadaran artinya pengalaman belajar peserta didik yang diperoleh ketika mereka memiliki kesadaran untuk menjadi pembelajar yang aktif dan mampu meregulasi diri. Peserta didik memahami tujuan pembelajaran, termotivasi secara intrinsik untuk belajar, serta aktif mengembangkan strategi belajar untuk mencapai tujuan.
- Bermakna artnya peserta didik dapat merasakan manfaat dan relevansi dari hal-hal yang dipelajari untuk kehidupan. Peserta didik mampu mengkonstruksi pengetahuan baru berdasarkan pengetahuan lama dan menerapkan pengetahuannya dalam kehidupan nyata.
- Menggembirakan maksudnya pembelajaran yang menggembirakan merupakan suasana belajar yang positif, menyenangkan, menantang, dan memotivasi. Peserta didik merasa dihargai atas keterlibatan dan kontribusinya pada proses pembelajaran. Peserta didik terhubung secara emosional, sehingga lebih mudah memahami, mengingat, dan menerapkan pengetahuan.
Pengembangan Karakter
Olah pikir, olah rasa, olah hati, dan olah raga adalah empat pilar pengembangan karakter yang saling melengkapi. Olah pikir berfokus pada pengembangan intelektual, olah rasa pada emosi dan kreativitas, olah hati pada spiritualitas dan nilai moral, serta olah raga pada kesehatan fisik dan kinestetik. Tujuannya adalah membentuk manusia yang utuh, cerdas, berkarakter, dan seimbang secara fisik, mental, dan spiritual.
- Olah pikir merupakan proses pendidikan yang berfokus pada pengasahan akal budi dan kemampuan kognitif, seperti kemampuan untuk memahami, menganalisa, dan memecahkan masalah
- Olah hati adalah proses pendidikan untuk mengasah kepekaan batin, membentuk budi pekerti, serta menanamkan nilai-nilai moral dan spiritual
- Olah rasa sebagai proses pendidikan yang bertujuan untuk mengembangkan kepekaan estetika, empati, dan kemampuan menghargai keindahan serta hubungan antarmanusia
- Olah raga merupakan bagian dari pendidikan yang bertujuan untuk menjaga dan meningkatkan kesehatan fisik, kekuatan tubuh, serta membentuk karakter melalui kegiatan jasmani
Kerangka Pembelajaran Mendalam
Kerangka pembelajaran mendalam terdiri dari empat komponen utama: praktik pedagogis, kemitraan pembelajaran, pemanfaatan digital, dan lingkungan belajar. Kerangka ini berfokus pada pemahaman bermakna, penerapan, dan refleksi, dengan tujuan untuk membekali siswa dengan kompetensi global untuk menghadapi tantangan masa depan.
- Praktik pedagogis: Guru menggunakan pendekatan yang mendorong keterlibatan aktif siswa, seperti pembelajaran berbasis masalah atau proyek. Praktik ini dirancang untuk diferensiasi dan mendorong kemandirian serta penalaran kritis.
- Kemitraan pembelajaran:. Terjadi kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan komunitas untuk mendukung lingkungan belajar. Hal ini memperkuat dimensi kewargaan dan kolaboratif siswa.
- Pemanfaatan digital:. Teknologi digunakan untuk meningkatkan akses dan kualitas pembelajaran, serta sebagai alat kolaborasi dan eksplorasi. Memungkinkan ekspresi kreativitas dan komunikasi lintas ruang.
- Lingkungan belajar: Mengintegrasikan ruang fisik dan virtual untuk mendukung pembelajaran yang fleksibel dan kolaboratif. Lingkungan ini harus mendukung perkembangan holistik siswa dan menghargai keberagaman.
Dimensi profil lulusan mencakup delapan aspek utama yang harus dikuasai peserta didik di setiap jenjang pendidikan, yaitu: keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, dan komunikasi. Tujuannya adalah untuk membentuk lulusan yang utuh, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan global.
- Keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa: Memiliki keyakinan teguh kepada Tuhan dan menghayati nilai-nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari.
- Kewargaan: Memiliki cinta tanah air, menaati aturan dan norma sosial, serta peduli dan bertanggung jawab secara sosial.
- Penalaran kritis: Mampu berpikir logis, analitis, dan reflektif dalam memproses informasi dan menyelesaikan masalah.
- Kreativitas: Mampu berpikir inovatif, fleksibel, dan orisinal dalam menciptakan solusi yang unik.
- Kolaborasi: Mampu bekerja sama secara efektif dengan orang lain untuk mencapai tujuan bersama.
- Kemandirian: Mampu bertanggung jawab atas proses dan hasil belajarnya sendiri, serta dapat mengambil inisiatif.
- Kesehatan: Memiliki fisik yang bugar dan sehat, serta mampu menjaga keseimbangan kesehatan fisik dan mental.
- Komunikasi: Mampu menyampaikan ide dan gagasan dengan jelas dan efektif.
Prinsip-prinsip pembelajaran mendalam meliputi tiga prinsip utama: berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Prinsip ini berfokus pada pemahaman yang lebih dalam, penerapan pengetahuan dalam kehidupan nyata, dan menciptakan lingkungan belajar yang positif dan memotivasi siswa.
- Berkesadaran (Mindful). Fokus pada tujuan dan proses: Siswa secara sadar terlibat dalam proses belajar, memahami tujuan, dan mengembangkan strategi belajar mereka sendiri. Aktif dan konsentrasi: Pembelajaran ini mendorong siswa untuk hadir secara fisik dan emosional, menjaga fokus, dan menyadari proses berpikir mereka. Mengembangkan diri: Siswa diberi kesempatan untuk membuat pilihan, terbuka pada perspektif baru, dan menumbuhkan rasa ingin tahu.
- Bermakna (Meaningful). Relevansi dengan kehidupan nyata: Materi pembelajaran memiliki hubungan yang jelas dan dapat dirasakan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari siswa. Penerapan pengetahuan: Siswa mampu mengaplikasikan pengetahuan yang telah dipelajari ke dalam situasi nyata dan tidak hanya memahami kontennya. Contoh: Menerapkan persamaan linear untuk menghitung keuntungan bisnis atau menentukan titik impas.
- Menggembirakan (Joyful). Suasana positif: Menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan, positif, dan menantang agar siswa merasa bahagia dan termotivasi untuk belajar. Motivasi intrinsik: Kesenangan dalam belajar yang membantu pemahaman, ingatan, dan penerapan pengetahuan, sehingga mendorong motivasi dari dalam diri. Mengintegrasikan aspek holistik: Proses pembelajaran melibatkan olah pikir, olah rasa, olah hati, dan olah raga untuk menciptakan pengalaman belajar yang utuh.
Pengalaman belajar pembelajaran mendalam adalah siklus berkelanjutan dari memahami, mengaplikasi, dan merefleksi, yang bertujuan membangun pemahaman yang utuh, kontekstual, dan berkelanjutan. Proses ini menekankan keterlibatan aktif siswa, menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan nyata, dan mengembangkan kesadaran diri serta motivasi. Tahap-tahap pengalaman belajar pembelajaran mendalam antara lain :
- Memahami: Tahap awal untuk membangun kesadaran dan mengkonstruksi pengetahuan baru secara mendalam dari berbagai sumber dan konteks.
- Mengaplikasi: Menerapkan pengetahuan yang diperoleh pada tahap sebelumnya untuk menyelesaikan masalah dalam situasi dunia nyata dan memperluas pemahaman.
- Merefleksi: Mengevaluasi proses dan hasil pembelajaran untuk memahami sejauh mana tujuan tercapai dan mengidentifikasi area yang perlu diperbaiki.
Contoh Pengalaman Pembelajaran Mendalam pada Ranah Kognitif antara lain sebagai berikut :
- Merefleksi : Peserta didik mengaitkan fotosintesis dalam konteks yang lebih luas dan menyadari perannya terhadap isu nyata seperti ketersediaan pangan, perubahan iklim, dan sebagainya.
- Mengaplikasi : Peserta didik menerapkan proses fotosintesis dan keterkaitannya dengan isu ketersediaan tanaman pangan.
- Memahami : Peserta didik menjelaskan beberapa elemen yang terlibat dalam fotosintesis, namun tidak dapat mengaitkan antar proses fotosintesis. Peserta didik dapat memberikan definisi fotosintesis namun belum dapat menjelaskan bagaimana atau mengapa fotosintesis terjadi
Contoh Pengalaman Pembelajaran Mendalam pada Ranah Afektif dan Psikomotorik antara lain sebagai berikut :
- Afektif : Sikap dan perilaku dalam pembelajaran yang menunjukkan bagaimana peserta didik menerima, merespons, menghargai, mengorganisasi, dan menginternalisasi nilai-nilai dalam kehidupan mereka. Contoh: Guru memfasilitasi diskusi tentang isu sosial dan meminta peserta didik untuk menuliskan refleksi tentang sikap mereka.
- Psikomotor :. Keterampilan fisik, koordinasi gerakan, atau tindakan nyata dalam pembelajaran yang melibatkan aktivitas motorik seperti tindakan fisik dan praktik langsung. Contoh: peserta didik mempraktikkan keterampilan dalam situasi yang menyerupai dunia nyata, seperti simulasi jual beli di pasar atau simulasi debat.
Peran Guru dalam Pembelajaran Mendalam
Dalam pembelajaran mendalam, guru berperan sebagai aktivator yang membimbing siswa untuk mencapai tujuan dan memenuhi potensi, fasilitator yang menghubungkan siswa dengan sumber belajar dan memberikan umpan balik, serta pengembang budaya belajar yang menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung siswa untuk berani mengambil risiko dan berkreasi.
- Aktivator. Guru menstimulasi peserta didik untuk mencapai tujuan pembelajaran dan kriteria kesuksesan pembelajaran dengan berbagai strategi serta memberikan umpan balik untuk menstimulasi setiap level pencapaian yang lebih tinggi
- Kolaborator. Guru membangun kolaboratif inkuiri dengan peserta didik, rekan sejawat, keluarga, masyarakat,. mitra profesi dan DUDIKA, dalam mitra lainnya dalam mengembangkan dan berbagi pengalaman nyata dalam penerapan PM
- Pengembang Budaya Belajar. Guru memberikan kepercayaan dan peluang mengambil resiko (risk-taking) kepada peserta didik untuk mengembangkan kreativitas dan berinovasi, dan melibatkan peserta didik dalam mengembangkan pengalaman belajar, serta menciptakan lingkungan pembelajaran yang mendukung PM
Prinsip Asesmen Pembelajaran Mendalam
Pembelajaran menekankan pentingnya umpan balik dan asesmen autentik yang mencakup tiga fungsi asesmen sebagai berikut:
- Asesmen sebagai Pembelajaran (Assessment as Learning). Asesmen untuk refleksi proses pembelajaran dan refleksi diri peserta didik. Contoh: Jurnal reflektif, self-assessment, peer assessment, checklist kemajuan belajar, dan lainnya
- Asesmen untuk Pembelajaran (Assessment for Learning).Asesmen untuk perbaikan proses pembelajaran berfungsi sebagai umpan balik membantu peserta didik memahami progres belajar mereka, serta refleksi guru mengajar. Contoh: Peta konsep, umpan balik formatif, observasi, pertanyaan diagnostik, dan lainnya
- Asesmen dalam Pembelajaran (Assessment of Learning).Asesmen untuk mengukur capaian pembelajaran peserta didik pada akhir pembelajaran. Contoh: Tes lisan, tes tertulis, laporan, penilaian proyek, portofolio, dan lainnya
Pembelajaran mendalam merupakan pendekatan pendidikan holistik yang menekankan pemahaman konsep secara mendalam dan pengembangan karakter siswa, bukan hanya menghafal fakta. Tujuannya adalah menciptakan suasana belajar yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan melalui olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga, sehingga siswa menjadi pribadi yang utuh, cerdas secara akademis, berkarakter kuat, dan siap menghadapi tantangan masa depan.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar